Menagih Janji Allah

Kiky Rifky

Kutemukan diriku dalam segelas kopi setelah diriku hilang dalam kerinduan yang lebih gelap dari warna kopi, juga kehilangan setengah jiwaku kala aku hancur melihat nama Laila kekasihku terulis di lembutnya salju. Aku sempat lupa siapa namaku semenjak aku bahagia mengenal Laila, dan aku kembali mengingat segalanya saat kehancuran layaknya bubuk kopi. Kuseduh duka dan…ya, segelas kopi dengan banjiran air mata.

Kutemukan juga pagimu, Laila! Di antara seribu tangis yang takut akan alur takdir yang berbeda dari angan-angan manusia. Laila, ketahuilah! Akulah sunyi dalam takdir yang amat kau takuti, dan satu hal yang pasti, kau akan sangat membutuhkanku, Laila! Membutuhkan sunyi. Sedang kau adalah tawa yang diminta semua manusia untuk sejenak bahagia. Saat kau bersama denganku, yakni tawa dan sunyi; tertawa dalam kesunyian sama dengan kegilaan. Semua orang akan menganggapku gila, padahal aku sudah gila semenjak mengagumi senyummu, Laila!

Laila! Aku adalah tepian, sedang kau adalah sampan. Pergilah sejauh mungkin dalam mengarungi samudera kehidupan, bersama pacarmu sang lelaki idaman, suatu saat kau akan bosan dengan badai dan ombak yang belum sempat kau syukuri sebagai ujian. Selalu ada keyakinan yang pasti bahwa sampan akan merindukan tepian.

Kutitipkan kata rinduku pada angin, ia yang menjelma perjumpaan kita dan menyulap kata rindu itu sebagai ajakan kepada Tuhan, padahal ku tahu kau masih kehilangan. Dan saat kau katakana bahwa kau sedang dekat dengan Tuhan, aku berpikir, ‘tuhan yang mana?’

Laila! Rindu ini terlahir dari perkawinan antara kehampaan dengan kekosongan, hampa terlalu setia hingga kau pergi untuk selamanya. Sedang, kosong terus tertawa melihatku nelangsa dilanda rindu. Di seberang negeri yang jauhnya hanya antara mata dan hati, kau tutup hati untukku dan tak kau sisakan ruang sejengkalpun untuk sekadar bersandar. Masih juga kau dustai hati yang letih ini bahwa tak ada satupun cinta di hatimu?

Laila, jujurlah! Berhentilah berdusta bahwa kau mencintai Tuhan, makhluk-Nya lebih kau cintai dan kau nantikan hatinya melebihi penantian surga. Kau tutup cintamu dengan cadar agar Tuhan tak tahu bahwa kau lebih cinta makhluk-Nya? Benar, Tuhan tak tahu adanya sekutu serupa pacarmu; lelaki idamanmu. Berbeda tipis denganku yang ingin menjadikanmu sesuatu yang tak pernah dimiliki oleh Tuhanku.

Laila! Jangan beri aku harapan yang kemudian selalu kuperbincangkan di hadapan Allah. Aku Lelah terus memujimu hingga seluruh Malaikat bosan mendengar namamu. Demi senyummu, kuabaikan tawa Jibril AS sebab keyakinan bodohku menyimpang jauh dari nurani. Kukira ketenangan bakal tercipta bersamamu, karenamu, karena cintaku untukmu. Nyatanya, ketenangan itu takkan pernah ada, (mungkin saja) Jibril AS lagi-lagi tertawa.

Laila! Sampai saat ini, sampai detik ini, aku belum menemukan cara untuk melupakanmu. Semalam aku bertanya pada Tuhanku, bagaimana aku menghapus bayangmu yang selalu melintas di mataku dan merampas tidurku. Dan karena sisa cintaku, aku rela kau jajah malamku dan kau jarah mimpi-mimpiku. Aku masih saja kebingungan dikepung arah, ke mana kubuang sisa rasa yang menyiksa ini?

Laila! Aku tak percaya lagi dengan waktu. Sebab waktu, cinta ini datang dan menghilang kapanpun ia mau, padahal ia tercipta bersama ruh hingga aku dan dirimu saling mengenal dan saling mengasihi. Lalu saat cintamu menghilang, kau berubah menjadi sesuatu yang fana. Sedang, demi keabadiannya cinta pergi dan aku berharap ia membawamu kembali di sini. Kukatakan pada waktu, aku berhenti berharap, senyap; lenyap.

Laila! Kemarin aku mempelajari matematika cinta dan aku terlalu bodoh tanpamu. Aku belajar penjumlahan, aku menjumlah dosaku dan dosamu; hasilnya air mata. Dosaku dikurangi pahalamu, semakin besar jumlah dosaku. Lebih membingungkan dari teori Al-Jabar, pahalaku dikalikan dengan pahalamu untuk menentukan nilai x yang sebenarnya adalah tagihan ke neraka, kusangkanya tiket ke surga, pun jumlahnya tak seberapa, masih cukup jauh untuk mengimbangi dosaku tanpa dosamu. Saat kucoba membagikan dosaku dengan jumlah seluruh makhluk sejak awal penciptaan sampai hari akhir, pun masih ada sisa dosa yang cukup untuk membayar penginapan di dasar Jahannam. Harapanku hanya cintamu, lalu Tuhan akan menjumlahkan dengan Rahmat-Nya, hasilnya bahagia di dunia hingga di surga.

Laila, aku juga belajar shorof bagian dari balaghoh kalbu untuk men-tasrif dan me-narkib hati yang rumit ini, aku adalah isim dhomir yang tak Nampak sebab aku bersembunyi di balik senyum palsu saat kehilanganmu; sejak ditinggal olehmu. Aku diam-diam merindukanmu tanpa pernah kau tahu, memperbincangkan namamu pada Tuhanku selalu. Sedang kau adalah isim isyarah, segala sesuatu dalam dirimu adalah isyarat, bahkan aku tak pernah memahami Bahasa hatimu, menerjemahkan senyummu pun butuh ribuan tahun untuk belajar tafsir kepada mufassirin spesialis kalbu.

Laila, aku belajar sastra juga untuk mempuisikan namamu, tapi selalu ada suku kata yang tak bisa diucapkan oleh lidah dan tak bisa dibahasakan oleh hati. Selalu ada diksi yang tak pernah tertulis dalam perbendaharaan kata, selalu ada rima yang merusak sajak dan parahnya aku tak bisa memberi judul. Pun karyaku selalu kubanggakan pada sunyi hingga ia hafal seluruh bait kehidupanku yang habis untuk mengagumimu.

Laila! Pernah kutuliskan untukmu jika kau bukan untukku, aku akan menagih janji Allah yang tentu dan pasti akan mengabulkan doa seorang ibu. Dalam tahajjudnya, ibuku menyebut namamu dan nama bapakmu di jeda pintanya pada Allah yang tak pernah mengingkari janjinya. Allah akan malu jika Dia membiarkan hamba-Nya yang meminta tetap hampa dari pemberian-Nya. Apakah kau akan membuat Allah merasa malu?

Dalam sastraku, aku selalu menuliskan janji Allah, janji terindah yang selalu kuulang sifat-Nya bahwa Dialah Tuhan yang Maha menepati janji, tak pernah ingkar walau sekali. Mungkin kau akan bosan jika membaca sastraku yang pembahasannya hanya janji Tuhan, janji Allah, janji Tuhan, dan janji Allah lagi serta janji Allah; yang mengabulkan pinta wanita tua untuk anaknya. Apa kau ingin agar Allah mengingkari janji-Nya?

Laila, guruku berkata bahwa matematika adalah ilmu pasti, aku juga akan memastikan tentang matematika cinta yang mana saat dosaku lebih besar dari segalanya, seteguk anggur cinta Allah akan menghapuskannya dengan duka, derita, dan air mata. Kata Majnun sebelumku, “Tunjukkan padaku! Pemuda mana yang tak menderita karena cinta?.” Janji Tuhan lagi,

فان مع العسريسراان مع العسريسرا

apakah kemudahan itu hanya ada di surga? Jawablah, Laila!

            Laila! Aku adalah ketakutan yang kau ciptakan, lalu kau jauhi aku hingga kau tak mengenal siapa diriku. Aku adalah hening yang ada karenamu, sebab kau tinggalkanku saat ada cinta yang lain. Aku adalah air mata yang terhapus tiap dukamu usai, padahal di sepanjang kehidupanmu, duka hanya sesekali mampir di wajahmu. Aku siap datang kala dibutuhkan dan siap pergi saat tiada guna lagi. Panggil aku saat hatimu pilu! Aku akan membawa sehelai kain rida’ tuk menghapus diri; air mata dalam sunyi.

            Laila! Sebagaimana kau ajarkan aku menuliskan namamu, kini ajari aku menghapusnya! Sebab saat kau pergi, menghapus senyummu saja aku tak bisa, lalu bagaimana aku menghapus nama indahmu yang pernah kutuliskan di body mobil yang berselimut debu yang juga ditulis kembali oleh malaikat; sebagai dosa atau sebagai doa.

            Laila, aku juga pernah bercerita tentang senja menjanda yang pasti kau lupa. Kutuliskan tentang gadis yang menggendong bakul di punggungnya menjelang fajar, kukira ia membawa beras atau sayuran, rupanya ia penjual takdir yang digendongnya. Lalu aku berkhusnudzon bahwa sebakul takdir di gendonganmu tak akan kau jual, Kau bukan penjual takdir, kan? Tak pernah ada kerugian untuk mereka yang berkhusnudzon meski sangkaannya salah, Allah akan mengganti salahnya prasangka hamba-Nya dengan sesuatu yang jauh lebih indah.

            Laila, aku jumpa pada duka kemarin senja, ia membawa sunyi dan rindu sepikul, sepikul memukul, aku terpukul atas kepergianmu ke hati pacarmu. Percuma aku berteriak, “Laila…! Senja itu milik kita!” bagaimana kau akan mendengarnya jika pendengaranmu dipenuhi kata cinta dari pacarmu?.

“Hai pemuda yang menderita karena cinta! Kubawakan untukmu sebakul sunyi dan sebakul rindu, keduanya kupikulkan untukmu,” kata duka.

“Aku tak ingin keduanya, aku butuh senyum kekasihku saja,” kilahku.

“Itu mustahil, pemuda! Senyum kekasihmu melebur bersama asap rokok pacarnya,”

“Pacar Laila perokok?”

“Iya, merokoklah agar kau tenang dan dicintai Laila!”

“Mengapa kau menghasut? Kau bukan setan. Aku takkan merokok apapun yang terjadi,”

“Aku lebih hebat dari setan, setan tak bisa hinggap di hati Rasulullah SAW, tapi aku pernah, tak hanya sekali dua kali,”

“Berarti surga mustahil untuk makhluk sepertimu sebagaimana senyum Laila yang katamu  mustahil buatku,”

“Aku bukan makhluk, aku adalah sifat yang kau perbuat,”

“Lalu sunyi dan rindu itu untuk apa?”

“Mereka juga sepertiku. Saat kau memilih sunyi, rindu bakal menghujam hatimu. Saat kau memilih rindu, sunyi bakal menyelimuti hidupmu.,”

“Oh, duka! Pergilah! Malam ini kekasihku akan datang membawa senyum,”

“Hahaha, baik. Aku akan tersenyum dan tertawa sepanjang hidupmu.”

Laila, duka menertawakanku dan aku pun tertawa, percaya dengan tipuanmu bahwa pacarmu sama sepertiku, padahal aku makhluk Tuhan yang begitu hina dengan rupa yang lebih gelap dari bayanganmu. Sedangkan pacarmu kau puji layaknya Nabi. Aku berpikir lagi, nabi mana yang gendut? ah, aku gila. Terlalu gila untuk disebut Majnun (tanpa Laila).

Laila, benarlah kematian Majnun yang pertama tanpa Laila. Allah mempersatukan mereka selamanya, karenanya Hadits yang mengatakan bahwa seorang istri akan dikumpulkan bersama suami terakhirnya, tidak berlaku bagi Laila-Majnun. Hadits yang berlaku bagi mereka adalah yang mengatakan bahwa seseorang bakal dikumpulkan dengan yang dicintainya. Bagaimana dengan dirimu, Laila? Akankah kau biarkan aku mati tertimbun duka, rindu, dan sunyi? Lalu Majnun mati dua kali dan di neraka tanpa berkumpul dengan sesiapa?

Kau diam sejenak, kopiku tiba-tiba dingin. Sedetik lalu kau masih tertawa, kini tawamu sirna bersama cahaya senja. Ada duka di sudut bibirmu, lahirkan tangis serupa sungai bawah nirwana. Kurindu senyummu sedetik lalu, Laila! Sebelum kepergianmu untuk pacarmu.

Aku belajar memahamimu, tak banyak senja terlahir dari cahaya dusta. Fajar yang shiddiq akan melahirkan cahaya dhuha dari embun kematian, tapi di pipimu ada dua cahaya, pipi kananmu cahaya dhuha dan pipi kirimu cahaya senja. Bagaimana kau mencuri cahaya senja dari genggaman malaikat? Juga tentang embun kematian yang menjelma binar di mata indahmu? Ah, aku bingung. Telah kau tutup malam harimu dengan cadar, aku menyangka kau juga akan menyembunyikan semesta dalam lipatan sajadahmu. Ah, kamu! Aku lupa bahwa aku sedang berusaha menghapus namamu dan melenyapkannya dari doaku; meski tak bisa, meski sia-sia saja, Laila!

Bandar, 5 Februari 2018

Akhir Perjalanan Hidup Rasulullah SAW

Pada tanggal 8 Dzulhijjah 11 H saat haji Wada’ di kala matahari tergelincir, Rasulullah berangkat ke Arafah dan melakukan khutbah terakhirnya …di hadapan seratus empat puluh ribu jama’ahnya, beliau berdiri di tengah-tengah mereka dan bersabda,

“Wahai manusia, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan! Mungkin setelah tahun ini aku tidak akan dapat menemui kalian di tempat ini … selama-lamanya. Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian seperti kesucian hari dan bulan ini di negeri ini sampai datang masanya kamu menghadap Tuhanmu … dan kamu pasti menghadap-Nya. Pada waktu itu, kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ketahuilah! Sesungguhnya segala bentuk perilaku dan tindakan jahiliyah tidak boleh berlaku lagi, tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana berlaku di jaman jahiliyah juga tidak berlaku lagi, dan sesungguhnya segala macam riba tidak boleh berlaku lagi. Ikhwah fillah, barang siapa telah diserahi amanat, maka tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya! Janganlah kamu mendzolimi orang lain! Dan jangan pula kamu terdzalimi! Ketahuilah! Sesungguhnya syetan telah berputus asa untuk dapat disembah di negeri kalian selama-lamanya, namun dia akan ditaati dalam perbuatan-perbuatan yang menurut kalian remeh, maka dia pun merasa puas terhadap hal itu. Oleh karena itu, peliharalah agamamu ini baik-baik! Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah, dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Hak kalian atas mereka adalah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian, dan hak mereka atas kalian adalah kalian harus memberi nafkah dan pakaian secara baik. Wahai manusia, dengarkanlah! Sungguh aku telah meninggalkan sesuatu pada kalian, yang jika kalian pegang teguh, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu kitabullah dan sunnahku. Wahai manusia!  Sesungguhnya tiada lagi Nabi sesudahku, dan tiada lagi ummat sepeninggal kalian. Sembahlah Allah, Tuhan kalian. Dan dirikanlah sholat lima waktu! Laksanakan puasa Ramadhan! Dan bayarlah zakat secara sukarela! Tunaikanlah haji di Baitullah! Dan taati pemimpin kalian! Niscaya kalian akan masuk surga Rabb kalian. Perhatikan kata-kataku! Sesungguhnya setiap muslim itu bersaudara, seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari yang lain, kecuali atas dasar keridhoan,” Rasul sejenak terdiam lalu bersabda, “Kalian akan ditanya tentang aku, maka apakah yang hendak kalian katakan?” mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat, dan memberikan nasihat,” sambil menunjuk ke langit, Rasulullah bersabda, “Ya Allah, saksikanlah!”

Selesai menyampaikan khutbah, wahyu terakhir turun dan putuslah wahyu untuk selama-lamanya. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maidah : 3)

Tatkala dakwah Islam telah sempurna, tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan orang-orang yang hidup di dunia mulai tampak pada diri Rasulullah SAW.

Pada awal bulan Shafar 11 H, Rasulullah pergi ke Uhud, seusai mensholati syuhada perang Uhud, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku mendahului kalian. Dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sungguh aku melihat telagaku sekarang ini, sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan dunia, demi Allah aku tidak khawatir kalian menjadi musyrik sepeninggalku, tetapi aku khawatir kalian memperebutkan dunia.”

Untuk pertama kalinya, hari Senin, 29 Shafar 11 H, Rasulullah sakit, suhu badan Nabi yang sangat tinggi menyebabkan para sahabat dapat melihat urat nadi di bagian kepala beliau. Hingga suatu ketika, Rasulullah pernah meminta tujuh gayung ir diguyurkan ke kepala beliau yang mulia.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah berujar, “Sesungguhnya ada seorang hamba diberi pilihan oleh Allah, yaitu diberi kemewahan dunia sesuai apa yang dikehendakinya, atau diberi apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya,” terdengar suara isak tangis, dialah Sayyidna Abu Bakar. Para sahabat keheranan, sebagaimana ketika haji Wada’ saat wahyu terakhir turun, ia juga menangis. Pada waktu itu, sayyidina Abu Bakkar berkata, “Sesungguhnya setelah kesempurnaan itu yang ada hanyalah kekurangan.” Para sahabat di kala itu mendapatkan kesan bahwa setelah agama ini disempurnakan risalahnya, maka aka nada orang yang paling dicintai di tengah mereka akan pergi.  “Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami, wahai Rasul!” ujar sayyidina Abu Bakkar berlinang air mata.

Semakin hari sakit Rasulullah semakin bertambah, dan selama itu sayyidina Abu Bakkar ditunjuk menjadi imam Sholat, sesekali Rasulullah menyingkap tabir di kamar dan memperhatikan kaum muslimin sedang shalat di masjid Nabawi sembari tersenyum, tak jarang pula Rasulullah hendak bangun, namun badan beliau tak kuat, kemudian beliau jatuh pingsan … berulang-ulang,.hingga Rasulullah harus dipapah oleh para sahabat, dengan kepala terbalut kain.

Pada hari Ahad, 11 Rabi’ul Awwal 11 H, Rasulullah memerdekakan budak laki-lakinya, menshodaqahkan tujuh dinar sisa hartanya, dan menghibahkan senjata-senjatanya kepada kaum muslimin. Pada malam itu, Sayyidah Aisyah meminjam minyak lampu dari tetangganya untuk penerangan kamar Rasulullah, sementara baju besi Rasulullah digadaikan kepada orang yahudi seharga tigapuluh sha’ gandum. Demikianlah, kondisi Rasulullah di saat-saat kritis.

Hingga keesokan harinya, di akhir waktu Dhuha … Senin, 12 Rabi’ul Awwal 11 H, Rasul memanggil Sayyidah Fathimah, puteri tercintanya, beliau membisikkan sesuatu kepadanya dan Sayyidah Fathimah pun menangis … kemudian Rasul memanggil Sayyidah Fathimah lagi dan membisikkan sesuatu, Sayyidah Fathimah tersenyum. Para sahabat bertanya hal itu kepada Sayyidah Fathimah, dan dijawabnya, “Nabi membisiki aku bahwa beliau akan wafat … lalu aku menangis, kemudian beliau membisiki aku lagi dan mengabarkan bahwa aku adalah orang pertama di antara anggota keluarga beliau yang akan menyusul beliau … lalu aku tersenyum.”

Sayyidah Fathimah melihat penderitaan berat yang dialami ayahandanya, sehingga ia berkata, “Alangkah beratnya penderitaanmu, ayah…” ungkapnya lirih, dengan suara parau sembari tersenyum, Rasul menghibur buah hatinya, “Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi.”

Para sahabat sudah merasa bahwa inilah saat-saat datangnya ajal bagi Nabi mereka, mereka berkumpul di sekitar kediaman Nabi. Begitu pula kaum muslimin lainnya.

Tiba-tiba …

Terdengar seorang berseru mengucap salam dari luar pintu, “Bolehkah saya masuk?” ujar suara itu. Sayyidah Fathimah tidak mengijinkannya, “Ayahku sedang sakit,” ujarnya sembari membalik badan dan menutup pintu. Rasul menanyai puterinya siapa yang tadi mengetuk pintu.

“Tidak tahu, ayah … sepertinya baru kali ini aku melihatnya,” jawab Sayyidah Fathimah dengan suara dan tutur kata yang lembut. Lalu Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan menggetarkan, “Ketahuilah! Dialah yang menghapuskan kenikmatan fana, dialah yang memisahkan pertemuan dunia, dialah … Malaikat Maut.”

Sayyidah Fathimah tak kuasa menahan ledakan tangisnya, malaikat Maut datang menghampiri ruangan itu. Rasulullah bertanya, “Mengapa Jibril tidak ikut bersamamu?” Kemudian dipanggillah malaikat Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di langit dunia, menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu alam semesta ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” pinta Rasulullah dengan suara amat lemah. Malaikat Jibril berkata, “Pintu-pintu langit terbuka, semua malaikat menanti ruhmu, semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, “ujar malaikat Jibril. Rasulullah mencium bau wangi surga dari pembaringannya ini, tapi ternyata itu tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan, “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Sayyidina Jibril.

“Kabarkan padaku bagaimana nasib ummatku kelak?” pinta Rasul. Sayyidina Jibril tersenyum, “Jangan khawatir, wahai Rasulullah! Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali ummat Muhammad telah berada di dalamnya.”

Detik-detik semakin dekat, saatnya sayyidina  Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik, Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Sayyidah Fathimah terpejam, sedang sayyidina Ali yang ada di sampingnya menunduk semakin dalam. Sayyidina Jibril seketika memalingkan mukanya ke arah lain.

“Jijikkah engkau melihatku hingga kau palingkan wajahmu, wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapa yang sanggup menyaksikan kekasih Allah direnggut ajal?” Sayyidina Jibril balik bertanya. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh karena sakit yang tak tertahankan lagi. Kulitnya serasa mengelupas dari ujung jari kaki ke bagian atas tubuhnya, sekujur badannya mengalami kesemutan luar biasa, dari bawah merambat naik ke atas, dan seribu mata pedang seperti dihujamkan seketika di batang lehernya. Rasulullah merasa telah di ambang perpisahannya, “Ya Allah, dahsyat nian maut ini … timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku! Jangan pada ummatku!”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi, bibirnya bergerak seperti hendak membisikkan sesuatu. Sayyidina Ali mendekatkan telinganya kepada Rasulullah, “Uushikum bish sholati (peliharalah sholat!) wa maa malakat aymanukum (dan peliharalah orang-orang lemah di antara kamu!)”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, para sahabat saling berpelukan, Sayyidah Fathimah menutupkan tangan di wajahnya, air matanya kian deras. Sayyidina Ali mendekatkan telinganya kembali ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan itu. Terdengar suara lirih Rasul ketika ruh mencapai kerongkongan, “Ummatii … Ummatii … Ummatii …”

NIAT MENYONGSONG RAMADHAN


(Habib Abubakar Adni al-Masyhur)

نية رمضان بقلم سيدي الحبيب ابي بكر العدني بن علي المشهور
نوينا مانواه النبي صلى الله عليه وسلم والسلف الصالح من ال البيت الكرام والصحابه الاعلام ونوينا القيام بحق الصيام على الوجه الذي يرضي الملك العلام ونوينا المحافظه على القيام وحفظ الجوارح عن المعاصي والاثام ونوينا تلاوة القران وكثرة الذكر والصلاة والسلام على سيد الانام ونوينا تجنب الغيبه والنميمه والكذب واسباب الحرام ونوينا كثرة الصدقات ومواساة الارامل والفقراء والايتام ونوينا كمال الإلتزام بآداب الإسلام والصلاة في الجماعه في اوقاتها بانتظام ونوينا كل نية صالحة نواها عباد الله الصالحين في العشر الاوائل والأواسط والأواخر وليلة القدر في سائر الليالي والأيام وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم بسر الفاتحه…
بسم الله الرحمن الرحيم.

Saya berniat seperti niatnya RASULULLAH SAW, dan para Salaf Assoolihiin dari keluarga RASUULULLAH SAW. dan Para Sohabat, serta berniat mengamalkan semua amalan yang berkaitan dengan puasa, dengan cara yang di ridhoi ALLAH SWT.

Dan saya berniat akan istigomah mengamalkan amalan² malam Ramadhon, dan menjaga panca indra saya atas maksiat² dan kejelekan², dan saya berniat untuk membaca Al-Quran dan memperbanyak dhikir dan Solawat atas Sayyidina Muhammad SAW, dan berniat menjauhi gosip dan membicarakan kejelekan orang, juga menfitnah orang, juga kebohongan, dan sesuatu yang menuju ke perbuatan haram…
Dan saya berniat akan banyak bersedekah, dan membantu Janda², Orang² miskin juga Anak² Yatim.

Dan saya berniat untuk melaksanakan adab² Islam dan Solat bejamaah di waktunya dengan istiqomah, dan saya berniat dengan niat² yang baik seperti niat² Orang² Soleh, di sepuluh hari yang pertama dan yang tengah² juga yang terakhir, dan mengharap mendapat Lailatul Qadr, dari pertama hari sampai akhir hari bulan puasa, dengan mengamalkan kebajikan di setiap malam dan siang hari…

Wa Shalallahu’Ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Sohbihi wa Sallam.
Bi sirrilFatihah

Siapakah Ulama’ itu?

Ulama, kata jamak dari kata tunggal “Aliim”. Secara literal berarti orang-orang yang berilmu. Kata ini disebut dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Q.S. Fathir:28).

Tetapi al-Qur’an menyebut banyak kata lain yang semakna atau memiliki konotasi yang sama dengan ulama. Antara lain : “ulu al-Ilmi” (yang punya ilmu), “ulu al-Albab” (yang mempunyai hati/pengetahuan inti/substantif), “Uli al-Abshar” (yang punya pengetahun), “Uli al-Nuha” (yang mempunyai akal yang sehat) dan Ahl al-Dzikir”(yang selalu mengingat Tuhan).

Dari Hadits Nabi kita menemukan kata itu dalam kalimat : “Al-Ulama Waratsatul Anbiya” (Ulama itu pewaris para Nabi).

Ada banyak predikat yang ditujukan kepada ulama. Antara lain : Siraj al-Ummah (lampu umat), “Manar al-Bilad” (menara/mercusuar negara), “Qiwam al-Ummah”, (pilar ummat), “Manabi’ al-Hikam” (sumber kebijaksanaan), dan lain-lain.

Tanda-tanda Ulama

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang bisa disebut ulama? Apa ciri-cirinya?

Habib Abdullah Al-Haddad, dalam kitabnya yang sangat terkenal dan dijadikan sumber pengetahuan etika di pesantren, “Nashaih al-Diniyyah”, menyebut sejumlah tanda/indikator karakter ulama:

“Tanda/ciri orang Alim (ulama) antara lain : pembawaannya tenang, rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, “nrimo”, suka sedekah, membimbing umat, menyayangi mereka, selalu mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan/maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi kemegahan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hati, tidak kasar, tidak suka pamer, tidak memusuhi dan membenci orang, tidak picik, tidak menipu, tidak licik, tidak mendahulukan orang kaya daripada orang miskin, dan tidak sering-sering mengunjungi penjabat pemerintahan/penguasa”.

Sementara Imam al-Ghazali menyebut sifat-sifat/ciri-ciri ulama sebagai berikut :

“Ketahuilah, bahwa yang patut/pantas disebut ulama ialah orang yang makananannya, pakaiannya, tempat tinggalnya (rumah) dan hal- hal lain yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, sederhana, tidak bermewah-mewahan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan.”

Lain lagi pendapat Maulana Jalal al-Din Rumi, penyair, dan sufi besar. Saat ditanya santrinya, “Siapakah yang disebut ulama?” Ia tak mendefinisikannya, tetapi memberikan contoh (perumpamaan) yang amat menarik tentang siapa orang alim (orang berilmu) itu. Katanya, “Dia bagaikan pohon yang ditanam di tanah yang subur. Tanah itu menjadikan pohon tersebut berdiri kokoh dan kuat dengan daun-daun yang menghijau dan merimbun. Lalu ia mengeluarkan bunga dan menghasilkan buah yang lebat. Meski ia lah yang menghasilkan bunga dan buah itu, tetapi ia sendiri tak mengambil buah itu. Buah itu untuk orang lain atau diambil mereka. Jika manusia bisa memahami bahasa pohon itu, maka ia sesungguhnya berkata, “Kami diajari untuk memberi dan tidak diajari untuk meminta”.

Teleportasi dan Relativitas

Apa itu Teleportasi?

            Teleportasi adalah pengalihan materi dari satu titik ke titik yang lain, kurang lebih instan, mirip dengan konsep apport, kata yang biasa digunakan dalam konteks spiritualisme. Teleportasi digunakan secara luas dalam karya fiksi ilmiah dan fantasi.

            Secara etimologi, kata teleportasi diciptakan oleh Charles Fort pada tahun 1931 M. Ia adalah ilmuan kebangsaan Amerika. Ia menggabungkan kata “Tele” dari Bahasa Yunani yang berarti jarak jauh dan “Portare” dari Bahasa Latin yang berarti membawa. Kata teleportasi diciptakan oleh Fort untuk menggambarkan penghilangan aneh dan penampakan yang di luar adat kebiasaan.

            Meski Charles Fort berusaha menyajikan data tentang teleportasi, bagi sebagian orang hal itu tetaplah mustahil dan hanya bisa dituangkan atau direalisasikan dalam film dan animasi. Sebagian yang lain mengatakan bahwa teleportasi hampir direalisasikan oleh Nicola Tesla, ilmuan kebanggaan kaum yang mempercayai bahwa Bumi berbentuk datar.

Bagaimana fakta berbicara?

            Sampai saat ini, teori itu tetap macet dan tergeser oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lain. Tak ada jurusan yang membahas khusus teleportasi atau membangun teknologi yang bisa membantu merealisasikan teleportasi.

            Meski teori ini sangat dibanggakan dan dielu-elukan kaum flat earth, yang mampu merealisasikan hanya Son Goku dalam animasi Dragon Ball, ia hanya menempelkan dua jari ke dahinya dan crrtttt, ia pindah ke tempat yang ia mau dalam detik waktu yang sama. Selain Goku, juga ada Hokage ke dua dan ke empat dalam serial Naruto karya Masashi Kishimoto, mereka menempel tanda ke beberapa titik dan menjadikan titik itu sebagai tujuan jurus teleportasi mereka.

Teleportasi dalam pandangan Islam

            Islam adalah agama yang paling sempurna, semua dikemas dalam Al-Qur’an, ada perintah, larangan, sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, aturan, mukjizat, politik, dan seluruh isi kehidupan bisa ditemukan dalam Al-Qur’an dan kandungannya. Lalu bagaimana Islam memandang fenomena teleportasi?

            Dalam Al-Qur’an, teleportasi disebutkan dalam kisah perpindahan istana Ratu Bilqis ke hadapan istana Nabi Sulaiman AS. Perpindahan itu bisa dilakukan oleh Ifrit dari golongan Jin, ia mampu memindah istana Ratu Bilqis ke hadapan istana Nabi Sulaiman sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari singgasananya. Tapi ada hamba dari kalangan manusia bernama Ashif Barqiya mampu memindah sebelum Nabi Sulaiman mengedipkan matanya.

            Kisah Ifrit dan Ashif bukan tentang sihir dan sim salabim, Ifrit adalah orang terpandai dalam golongan jin, sedang Ashif adalah hamba Allah berilmu tinggi yang didapatnya dari ketekunan dan penghambaan sejati dari makhluk kepada penciptanya.

            Dari kisah di atas, sebagian orang muslim mengatakan bahwa teleportasi adalah mukjizat atau karomah dari Allah yang diberikan pada para Nabi dan Wali-Nya. Namun jika pendapat itu dibenarkan, maka setan dan jin uga bisa disebut nabi atau wali karena mereka dapat mukjizat atau karomah. Maka penulis menegaskan bahwa teleportasi bukan mukjizat atau karomah, bangsa jin menguasai betul tentang teleportasi, hanya saja jin tak bisa menjelaskan teori teleportasi.

            Dalam Islam, teleportasi dikenal dengan istilah Thoyyil Ardh (طي الأرض) dengan arti sempitnya adalah memenggal bumi, sedangkan pengertian secara luasnya adalah kemampuan makhluk dalam melipat jarak yang mana kemampuan ini didapat dari berbagai cara, untuk para wali Allah, mereka mendapatkan hal ini langsung dari Allah. Untuk para jin, mereka belajar secara turun-temurun.

Untuk manusia biasa, mereka juga bisa menguasai teleportasi. Mereka belajar dengan berpuasa atau mengekang hawa nafsu dan bertapa atau khalwat sehingga jasad mereka ringan. Kebanyakan manusia ruhnya mengikuti jasad ke manapun jasad pergi, sebab jasad mereka terlampau berat oleh makanan haram, dosa, dan sebagainya. Sedangkan mereka yang menguasai thoyyil ardh jasadnya cenderung ringan sehingga jasadlah yang ikut ruh ke manapun ruh berkehendak pergi.

Adakah bukti nyata?

            Banyak kisah para waliyullah melakukan teleportasi, di antaranya adalah kisah paling fenomenal bagi kalangan Alawiy yakni kisah Al-Imam Al-Quthub Habib Abdullah bin Alwiy Al-Haddad yang selalu thawaf di Masjidil Haram, di sisi lain beliau sedang berdakwah, mengajar, dan menulis di Hawi, Tarim (Yaman).

Ketika beliau wafat, salah satu muridnya memberi tahukan kabar ini kepada beberapa orang di Makkah, tapi mereka lebih dulu tahu sebelum diberitahukan oleh murid Imam Haddad. Muridnya pun keheranan, pasalnya di zaman beliau belum ada alat komunikasi seperti telepon maupun hape. Ia menanyakan bagaimana mereka tahu bahwa Imam Haddad telah tiada? Meraka mengatakan bahwa Imam Haddad paling istiqomah berthawaf di sisi Ka’bah.

Mbah Muslih Mranggen Demak juga demikian, di satu sisi beliau berangkat haji ke Makkah, di sisi lain beliau beraktivitas seperti biasa, sebagaimana kyai pada umumnya, mengajar, mengimami shalat, dll. Saksinya bukan hanya satu atau dua orang, tapi banyak. Hanya saja tak pernah terekam kamera.

Suatu ketika ketika ada acara di Pekalongan, beliau melakukan teleportasi yang juga meliputi beberapa santrinya. Kalau tidak salah insya Allah ceritanya begini, acara dimulai sehabis Maghrib, sedang Mbah Muslih beraktivitas seperti biasa, Shalat Ashar berjamaah, membaca ratib yang panjang, ngaji hingga menjelang maghrib. Sopirnya keheranan, ia mengajak Mbah Muslih untuk bersegera tapi dengan santainya Mbah Muslih berkata, “Bar ngaji, dewe mangkat. Mengko sholat Maghrib neng Pekalongan.” Santrinya hanya bisa mengiyakan dan sendiko dawuh sambil berpikir, mana mungkin?

Kuasa Allah ditampakkan sebagai jawaban pikiran sang sopir, bagi Allah tak ada yang tak mungkin. Sopir itu menyetir biasa tapi dalam sekejap, ia dan rombongan Mbah Muslih sampai Pekalongan tepat saat Maghrib. Padahal jarak Mranggen-Pekalongan lebih dari 100 km. mustahil untuk dijangkau di bawah satu jam.

Hubungan teleportasi dengan teori Einstein

            Tentu telinga siapapun pernah mendengar nama Albert Einstein, pemikir yang sangat jenius ini memaparkan sebuah teori terkemuka pada tahun 1903, yakni teori relativitas, di mana benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu di muka bumi juga berlaku di seluruh jagad raya. Teori ini meliputi struktur ruang dan waktu.

            Bagaimana dengan kisah wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan? Beliau dibunuh oleh muridnya sendiri yang juga hafal Qur’an. Sebelum wafat, beliau sedang dalam keadaan berpuasa sunnah dan membaca Al-Qur’an meski beliau hafal. Di luar rumah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein menjaga pintu sehingga tak ada yang berani masuk. Ketika sedang membaca Al-Qur’an, Rasulullah hadir dan Sayyidina Utsman melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga.

“Kau akan berbuka denganku.” Sabda Rasul, Sayyidina Utsman pun tersenyum. Muridnya datang dari jendela dan menikam Sayyidina Utsman dan wafatlah Sayyidina Utsman, menantu Rasulullah yang sedang menjabat Khalifah ke tiga Khulafaur Rasyidin. Jika teori relativitas menyebutkan bahwa alam semesta terdiri dari struktur ruang dan waktu, bagaimana Sayyidina Utsman yang masih hidup dan Rasulullah yang sudah wafat bisa bertemu?

            Tak ada kecepatan pergerakan benda melebihi kecepatan cahaya di ruang hampa. Tapi Islam menjawab lain, ada kendaraan teleportasi yang jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya. Buroq, kendaraan menyerupai binatang berkaki empat, bertanduk, berwajah sangat cantik, bersayap, dan bergerak sangat cepat. Dari Bumi ke langit yang jauhnya tak bisa dijangkau akal manusia bisa ditempuh oleh Buroq dalam sekejap. Akan tetapi bagi orang non muslim akan menganggap hal ini hanyalah dongeng belaka yang tak bisa dibuktikan adanya kecuali dengan kematian.

            Dalam sejarah manusia, mereka mengenal bahwa satu-satunya orang yang telah sampai ke surga adalah Nabi Idris AS dengan perantara Malaikat. Kisah ini secara tidak langsung menggeser teori relativitas yang sangat terbatas tapi masih menjadi misteri bagi manusia yang sangat sulit dipecahkan.

            Jarang ada yang tahu bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW yang bernama Sayyid Muhammad bin Ali Ba Alawiy atau sering dikenal dengan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqoddam bisa berlepas dari semua dimensi sehingga beliau bisa seenaknya jalan-jalan ke surga tanpa perantara, lalu kembali ke bumi pun seenaknya. Aroma harum surga yang belum tercium siapapun dan pasir surga yang sangat indah sering kali tertinggal di telapak kaki beliau.

            Anak dari Al-Muqaddam yang bernama Sayyid Alwiy Al-Ghuyyur juga memiliki kelebihan ilmu yang menggeser teori relativitas. Semasa kecilnya, mainannya adalah unggas-unggas yang ada di lingkungannya. Jika kepala unggas dirasa kurang sesuai dengan tubuh unggas baik warna maupun ukurannya, maka Sayyid Alwi kecil memutar kepala unggas hingga lepas, ditukar dengan tubuh unggasnya yang lain yang juga diputar kepalanya hingga lepas dan unggas itu hidup kembali atas izin Allah.

            Kisah Al-Muqaddam membuktikan bahwa Ummat Muhammad adalah ummat terbaik, jika kita mau untuk bersungguh-sungguh belajar, maka bukan mustahil jika teori relativitas dan teleportasi bisa dikembangkan dan direalisasi untuk persiapan menghadapi perang akhir zaman.

Referensi: Wikipedia, Biografi Habib Ali Al-Habsyi

T