Kiky Rifky
Kutemukan diriku dalam segelas kopi setelah diriku hilang dalam kerinduan yang lebih gelap dari warna kopi, juga kehilangan setengah jiwaku kala aku hancur melihat nama Laila kekasihku terulis di lembutnya salju. Aku sempat lupa siapa namaku semenjak aku bahagia mengenal Laila, dan aku kembali mengingat segalanya saat kehancuran layaknya bubuk kopi. Kuseduh duka dan…ya, segelas kopi dengan banjiran air mata.
Kutemukan juga pagimu, Laila! Di antara seribu tangis yang takut akan alur takdir yang berbeda dari angan-angan manusia. Laila, ketahuilah! Akulah sunyi dalam takdir yang amat kau takuti, dan satu hal yang pasti, kau akan sangat membutuhkanku, Laila! Membutuhkan sunyi. Sedang kau adalah tawa yang diminta semua manusia untuk sejenak bahagia. Saat kau bersama denganku, yakni tawa dan sunyi; tertawa dalam kesunyian sama dengan kegilaan. Semua orang akan menganggapku gila, padahal aku sudah gila semenjak mengagumi senyummu, Laila!
Laila! Aku adalah tepian, sedang kau adalah sampan. Pergilah sejauh mungkin dalam mengarungi samudera kehidupan, bersama pacarmu sang lelaki idaman, suatu saat kau akan bosan dengan badai dan ombak yang belum sempat kau syukuri sebagai ujian. Selalu ada keyakinan yang pasti bahwa sampan akan merindukan tepian.
Kutitipkan kata rinduku pada angin, ia yang menjelma perjumpaan kita dan menyulap kata rindu itu sebagai ajakan kepada Tuhan, padahal ku tahu kau masih kehilangan. Dan saat kau katakana bahwa kau sedang dekat dengan Tuhan, aku berpikir, ‘tuhan yang mana?’
Laila! Rindu ini terlahir dari perkawinan antara kehampaan dengan kekosongan, hampa terlalu setia hingga kau pergi untuk selamanya. Sedang, kosong terus tertawa melihatku nelangsa dilanda rindu. Di seberang negeri yang jauhnya hanya antara mata dan hati, kau tutup hati untukku dan tak kau sisakan ruang sejengkalpun untuk sekadar bersandar. Masih juga kau dustai hati yang letih ini bahwa tak ada satupun cinta di hatimu?
Laila, jujurlah! Berhentilah berdusta bahwa kau mencintai Tuhan, makhluk-Nya lebih kau cintai dan kau nantikan hatinya melebihi penantian surga. Kau tutup cintamu dengan cadar agar Tuhan tak tahu bahwa kau lebih cinta makhluk-Nya? Benar, Tuhan tak tahu adanya sekutu serupa pacarmu; lelaki idamanmu. Berbeda tipis denganku yang ingin menjadikanmu sesuatu yang tak pernah dimiliki oleh Tuhanku.
Laila! Jangan beri aku harapan yang kemudian selalu kuperbincangkan di hadapan Allah. Aku Lelah terus memujimu hingga seluruh Malaikat bosan mendengar namamu. Demi senyummu, kuabaikan tawa Jibril AS sebab keyakinan bodohku menyimpang jauh dari nurani. Kukira ketenangan bakal tercipta bersamamu, karenamu, karena cintaku untukmu. Nyatanya, ketenangan itu takkan pernah ada, (mungkin saja) Jibril AS lagi-lagi tertawa.
Laila! Sampai saat ini, sampai detik ini, aku belum menemukan cara untuk melupakanmu. Semalam aku bertanya pada Tuhanku, bagaimana aku menghapus bayangmu yang selalu melintas di mataku dan merampas tidurku. Dan karena sisa cintaku, aku rela kau jajah malamku dan kau jarah mimpi-mimpiku. Aku masih saja kebingungan dikepung arah, ke mana kubuang sisa rasa yang menyiksa ini?
Laila! Aku tak percaya lagi dengan waktu. Sebab waktu, cinta ini datang dan menghilang kapanpun ia mau, padahal ia tercipta bersama ruh hingga aku dan dirimu saling mengenal dan saling mengasihi. Lalu saat cintamu menghilang, kau berubah menjadi sesuatu yang fana. Sedang, demi keabadiannya cinta pergi dan aku berharap ia membawamu kembali di sini. Kukatakan pada waktu, aku berhenti berharap, senyap; lenyap.
Laila! Kemarin aku mempelajari matematika cinta dan aku terlalu bodoh tanpamu. Aku belajar penjumlahan, aku menjumlah dosaku dan dosamu; hasilnya air mata. Dosaku dikurangi pahalamu, semakin besar jumlah dosaku. Lebih membingungkan dari teori Al-Jabar, pahalaku dikalikan dengan pahalamu untuk menentukan nilai x yang sebenarnya adalah tagihan ke neraka, kusangkanya tiket ke surga, pun jumlahnya tak seberapa, masih cukup jauh untuk mengimbangi dosaku tanpa dosamu. Saat kucoba membagikan dosaku dengan jumlah seluruh makhluk sejak awal penciptaan sampai hari akhir, pun masih ada sisa dosa yang cukup untuk membayar penginapan di dasar Jahannam. Harapanku hanya cintamu, lalu Tuhan akan menjumlahkan dengan Rahmat-Nya, hasilnya bahagia di dunia hingga di surga.
Laila, aku juga belajar shorof bagian dari balaghoh kalbu untuk men-tasrif dan me-narkib hati yang rumit ini, aku adalah isim dhomir yang tak Nampak sebab aku bersembunyi di balik senyum palsu saat kehilanganmu; sejak ditinggal olehmu. Aku diam-diam merindukanmu tanpa pernah kau tahu, memperbincangkan namamu pada Tuhanku selalu. Sedang kau adalah isim isyarah, segala sesuatu dalam dirimu adalah isyarat, bahkan aku tak pernah memahami Bahasa hatimu, menerjemahkan senyummu pun butuh ribuan tahun untuk belajar tafsir kepada mufassirin spesialis kalbu.
Laila, aku belajar sastra juga untuk mempuisikan namamu, tapi selalu ada suku kata yang tak bisa diucapkan oleh lidah dan tak bisa dibahasakan oleh hati. Selalu ada diksi yang tak pernah tertulis dalam perbendaharaan kata, selalu ada rima yang merusak sajak dan parahnya aku tak bisa memberi judul. Pun karyaku selalu kubanggakan pada sunyi hingga ia hafal seluruh bait kehidupanku yang habis untuk mengagumimu.
Laila! Pernah kutuliskan untukmu jika kau bukan untukku, aku akan menagih janji Allah yang tentu dan pasti akan mengabulkan doa seorang ibu. Dalam tahajjudnya, ibuku menyebut namamu dan nama bapakmu di jeda pintanya pada Allah yang tak pernah mengingkari janjinya. Allah akan malu jika Dia membiarkan hamba-Nya yang meminta tetap hampa dari pemberian-Nya. Apakah kau akan membuat Allah merasa malu?
Dalam sastraku, aku selalu menuliskan janji Allah, janji terindah yang selalu kuulang sifat-Nya bahwa Dialah Tuhan yang Maha menepati janji, tak pernah ingkar walau sekali. Mungkin kau akan bosan jika membaca sastraku yang pembahasannya hanya janji Tuhan, janji Allah, janji Tuhan, dan janji Allah lagi serta janji Allah; yang mengabulkan pinta wanita tua untuk anaknya. Apa kau ingin agar Allah mengingkari janji-Nya?
Laila, guruku berkata bahwa matematika adalah ilmu pasti, aku juga akan memastikan tentang matematika cinta yang mana saat dosaku lebih besar dari segalanya, seteguk anggur cinta Allah akan menghapuskannya dengan duka, derita, dan air mata. Kata Majnun sebelumku, “Tunjukkan padaku! Pemuda mana yang tak menderita karena cinta?.” Janji Tuhan lagi,
فان مع العسريسراان مع العسريسرا
apakah kemudahan itu hanya ada di surga? Jawablah, Laila!
Laila! Aku adalah ketakutan yang kau ciptakan, lalu kau jauhi aku hingga kau tak mengenal siapa diriku. Aku adalah hening yang ada karenamu, sebab kau tinggalkanku saat ada cinta yang lain. Aku adalah air mata yang terhapus tiap dukamu usai, padahal di sepanjang kehidupanmu, duka hanya sesekali mampir di wajahmu. Aku siap datang kala dibutuhkan dan siap pergi saat tiada guna lagi. Panggil aku saat hatimu pilu! Aku akan membawa sehelai kain rida’ tuk menghapus diri; air mata dalam sunyi.
Laila! Sebagaimana kau ajarkan aku menuliskan namamu, kini ajari aku menghapusnya! Sebab saat kau pergi, menghapus senyummu saja aku tak bisa, lalu bagaimana aku menghapus nama indahmu yang pernah kutuliskan di body mobil yang berselimut debu yang juga ditulis kembali oleh malaikat; sebagai dosa atau sebagai doa.
Laila, aku juga pernah bercerita tentang senja menjanda yang pasti kau lupa. Kutuliskan tentang gadis yang menggendong bakul di punggungnya menjelang fajar, kukira ia membawa beras atau sayuran, rupanya ia penjual takdir yang digendongnya. Lalu aku berkhusnudzon bahwa sebakul takdir di gendonganmu tak akan kau jual, Kau bukan penjual takdir, kan? Tak pernah ada kerugian untuk mereka yang berkhusnudzon meski sangkaannya salah, Allah akan mengganti salahnya prasangka hamba-Nya dengan sesuatu yang jauh lebih indah.
Laila, aku jumpa pada duka kemarin senja, ia membawa sunyi dan rindu sepikul, sepikul memukul, aku terpukul atas kepergianmu ke hati pacarmu. Percuma aku berteriak, “Laila…! Senja itu milik kita!” bagaimana kau akan mendengarnya jika pendengaranmu dipenuhi kata cinta dari pacarmu?.
“Hai pemuda yang menderita karena cinta! Kubawakan untukmu sebakul sunyi dan sebakul rindu, keduanya kupikulkan untukmu,” kata duka.
“Aku tak ingin keduanya, aku butuh senyum kekasihku saja,” kilahku.
“Itu mustahil, pemuda! Senyum kekasihmu melebur bersama asap rokok pacarnya,”
“Pacar Laila perokok?”
“Iya, merokoklah agar kau tenang dan dicintai Laila!”
“Mengapa kau menghasut? Kau bukan setan. Aku takkan merokok apapun yang terjadi,”
“Aku lebih hebat dari setan, setan tak bisa hinggap di hati Rasulullah SAW, tapi aku pernah, tak hanya sekali dua kali,”
“Berarti surga mustahil untuk makhluk sepertimu sebagaimana senyum Laila yang katamu mustahil buatku,”
“Aku bukan makhluk, aku adalah sifat yang kau perbuat,”
“Lalu sunyi dan rindu itu untuk apa?”
“Mereka juga sepertiku. Saat kau memilih sunyi, rindu bakal menghujam hatimu. Saat kau memilih rindu, sunyi bakal menyelimuti hidupmu.,”
“Oh, duka! Pergilah! Malam ini kekasihku akan datang membawa senyum,”
“Hahaha, baik. Aku akan tersenyum dan tertawa sepanjang hidupmu.”
Laila, duka menertawakanku dan aku pun tertawa, percaya dengan tipuanmu bahwa pacarmu sama sepertiku, padahal aku makhluk Tuhan yang begitu hina dengan rupa yang lebih gelap dari bayanganmu. Sedangkan pacarmu kau puji layaknya Nabi. Aku berpikir lagi, nabi mana yang gendut? ah, aku gila. Terlalu gila untuk disebut Majnun (tanpa Laila).
Laila, benarlah kematian Majnun yang pertama tanpa Laila. Allah mempersatukan mereka selamanya, karenanya Hadits yang mengatakan bahwa seorang istri akan dikumpulkan bersama suami terakhirnya, tidak berlaku bagi Laila-Majnun. Hadits yang berlaku bagi mereka adalah yang mengatakan bahwa seseorang bakal dikumpulkan dengan yang dicintainya. Bagaimana dengan dirimu, Laila? Akankah kau biarkan aku mati tertimbun duka, rindu, dan sunyi? Lalu Majnun mati dua kali dan di neraka tanpa berkumpul dengan sesiapa?
Kau diam sejenak, kopiku tiba-tiba dingin. Sedetik lalu kau masih tertawa, kini tawamu sirna bersama cahaya senja. Ada duka di sudut bibirmu, lahirkan tangis serupa sungai bawah nirwana. Kurindu senyummu sedetik lalu, Laila! Sebelum kepergianmu untuk pacarmu.
Aku belajar memahamimu, tak banyak senja terlahir dari cahaya dusta. Fajar yang shiddiq akan melahirkan cahaya dhuha dari embun kematian, tapi di pipimu ada dua cahaya, pipi kananmu cahaya dhuha dan pipi kirimu cahaya senja. Bagaimana kau mencuri cahaya senja dari genggaman malaikat? Juga tentang embun kematian yang menjelma binar di mata indahmu? Ah, aku bingung. Telah kau tutup malam harimu dengan cadar, aku menyangka kau juga akan menyembunyikan semesta dalam lipatan sajadahmu. Ah, kamu! Aku lupa bahwa aku sedang berusaha menghapus namamu dan melenyapkannya dari doaku; meski tak bisa, meski sia-sia saja, Laila!
Bandar, 5 Februari 2018

